{"id":245,"date":"2005-01-15T10:55:54","date_gmt":"2005-01-15T10:55:54","guid":{"rendered":"http:\/\/michaelputra.com\/engine\/?p=245"},"modified":"2009-07-31T12:03:02","modified_gmt":"2009-07-31T12:03:02","slug":"senangnya-si-anak-jalanan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/michaelputra.com\/library\/2005\/01\/senangnya-si-anak-jalanan\/","title":{"rendered":"Senangnya si Anak Jalanan"},"content":{"rendered":"<p>Banyak yang bilang aku kotoran kota<br \/>\nBanyak yang tuduh aku bandit kecil<br \/>\nBanyak yang vonis aku anak rusak<br \/>\nBiarlah&#8230; aku toh tetap senang<\/p>\n<p>Kau tahu kenapa aku senang?<br \/>\nJustru anak-anak dan orang-orang macam kau bikin aku senang !<br \/>\nYa, kau itu yang sedang membaca lamunanku ini\u2026 iya, kau !<br \/>\nOh bukan\u2026<br \/>\nBukan karena sumbanganmu yang cuma seperseratusribu jajananmu\u2026<\/p>\n<p>Aku tahu itu memang banyak bagiku, tapi kan kau menyumbang sebetulnya bukan karena aku, tapi supaya kau sudah merasa jadi dermawan kan ??<br \/>\nBaguslah kalau kau senang dengan menyumbang, tapi aku senang bukan karena sumbanganmu\u2026<\/p>\n<p>Aku senang justru karena kau tidak senang \u2026.<br \/>\nKau sering memandang golonganku rendah, tapi sebetulnya, asal kau tahu, kami pun sering kasihan dengan golonganmu\u2026.<\/p>\n<p>Aku hidup dari hasil keluyuranku di jalan, mengganggu orang katanya, biarlah\u2026<br \/>\nTapi kau? Kau yang sudah berkumis dan berdada besar masih terus minta disuap mama-papa mu\u2026<br \/>\nSedangkan aku ?<br \/>\nMinta sarapan dari emak-ku saja aku tidak tega, itu artinya dia buang uang\u2026<\/p>\n<p>Lebih baik dia jual makanan itu ke warung buat ditukar obat nyamuk buat adik ku yang tiap malam menangis diserang nyamuk-nyamuk comberan\u2026<br \/>\nComberan yang isinya kotoran rumah mu\u2026<br \/>\nYah, kau mungkin tak bisa mengerti\u2026<br \/>\nAku maklum kok, kalau pendingin kamarmu saja rusak, kau sudah teriak-teriak dan merengek-rengek susah tidur\u2026<br \/>\nKawan, kau tak tau artinya susah tidur\u2026 apalagi cuma alas tikar robek \u2026<\/p>\n<p>Biarlah\u2026 aku toh senang\u2026<br \/>\nAku senang karena emak ku justru ingin sekali membuatkan sarapan karena aku tau dia sayang aku, karena aku tau dia ingin aku sehat\u2026<br \/>\nAku juga senang karena dia tau aku tidak tega minta sarapan karena aku sayang adik ku<br \/>\nAku senang karena kita saling tau betapa kita saling mencintai<\/p>\n<p>Sementara kau, kau dapat semua yang kau inginkan karena rengekanmu, apa pun yang ayah-ibumu berikan akan selalu kurang \u2026<br \/>\nBagaimana mungkin kau akan bisa senang, hai anak tak tahu diuntung?<br \/>\nBagaimana orangtua mu bisa tau kalau kau sayang mereka ? Dengan rengekanmu ?<\/p>\n<p>Tentu saja kau akan selalu dibabibutakan dengan omelan dan amarah mereka \u2026<br \/>\nDan kalau begitu, kau tuduh mereka tidak sayang padamu\u2026.<br \/>\nAku mungkin kotoran kota, tapi hatimu lah yang lebih kotor!<br \/>\nAku bikin kotor perempatan, tapi kau bikin kotor kasih sayang keluargamu\u2026<\/p>\n<p>Itu semua karena kau bodoh!<br \/>\nItulah juga yang membuatku senang, melihat segala kebodohanmu<br \/>\nSungguh aku tidak mau jadi orang sebodoh kalian !<\/p>\n<p>Kau sungguh bodoh tidak melihat kemegahan rumahmu<br \/>\nLebih bodoh lagi tidak bisa menikmati hidangan babu-babu mu<br \/>\nPaling bodoh ialah kau buta terhadap kasih sayang orang tua mu<br \/>\nTanpa orang tua mu kau mungkin sama denganku, di pengkolan sana, menganggu mobil-mobil yang lewat supaya kita bisa makan tempe goreng\u2026<\/p>\n<p>Oh, aku salah\u2026<br \/>\nKau tidak akan sanggup mandi tanpa sabun,<br \/>\nKau tidak akan kuat kotornya jalanan,<br \/>\nKau tidak akan bisa puasa sepanjang taun\u2026<br \/>\nSiapalah yang tau akan jadi apa kau tanpa santunan mereka \u2026<\/p>\n<p>Terlebih lagi Kawan, kau tidak akan mau punya emak seperti emak ku yang tidak akan bisa membelikanmu pakaian necis, apalagi sepatu bagus\u2026.<br \/>\nIyalah, bagaimana mungkin kau mau emak macam itu, sementara handphone yang kau punya saja kau sudah bosan, mobil yang kau setir bagimu masih kurang hebat\u2026<br \/>\nKau teror terus orangtua mu supaya kau dapat mainanmu\u2026 &#8221;<br \/>\nAku mungkin bandit kecil, aku suka ganggu orang lain\u2026<br \/>\nTapi kau banditi sendiri orang yang melahirkan dan membesarkanmu \u2026<\/p>\n<p>Aku senang karena emak ku tidak punya anak macam kau&#8230; kasihan dia\u2026<br \/>\nKalau aku rengek terus emak ku supaya bisa sekolah saja, bisa sakit jantung dia kerja sampai mampus\u2026<br \/>\nTapi kau ?<br \/>\nKalau perlu kau ambil juga jantung orang tua mu supaya kau bisa hidup dua kali dengan uang mereka\u2026.<br \/>\nApa ? Tidak mungkin ?&#8230;<br \/>\nYah, kupikir tadinya juga tidak mungkin seorang anak berani kasari orang tuanya\u2026<\/p>\n<p>Berani-beraninya orang vonis aku anak rusak\u2026<br \/>\nBagiku anak baru rusak kalau berani kurang ajar ke orang tuanya\u2026 namanya juga \u2018anak\u2019 yang rusak \u2026.<br \/>\nCoba kau tanya emak ku, kapan aku berani sakiti dia apalagi bikin dia marah \u2026<\/p>\n<p>Aku senang dengan hidupku sekarang<br \/>\nAku senang aku masih bisa bermain<br \/>\nAku senang aku tidak kena bencana maha dahsyat<br \/>\nAku senang terkadang bisa makan dua kali<br \/>\nAku senang tangan-kakiku bisa kupakai<\/p>\n<p>Tapi Kawan, aku paling senang karena aku bukan engkau&#8230;<br \/>\nAku kotoran kota, tapi kasih sayang keluargaku tetap jernih<br \/>\nAku bandit kecil, tapi emak ku anggap aku malaikat<br \/>\nAku anak rusak, tapi aku tidak merusak segala berkat yang kuterima<\/p>\n<p>Ah sudahlah, lebih baik aku ganggu mobil-mobil itu lagi daripada melamun&#8230;.<br \/>\nNanti aku sama bodohnya dengan kau &#8230;<\/p>\n<p><em>-Rotterdam, 11 Januari 2005<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Banyak yang bilang aku kotoran kota<br \/>\nBanyak yang tuduh aku bandit kecil<br \/>\nBanyak yang vonis aku anak rusak<br \/>\nBiarlah&#8230; aku toh tetap senang<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":[],"categories":[149],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/michaelputra.com\/library\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/245"}],"collection":[{"href":"https:\/\/michaelputra.com\/library\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/michaelputra.com\/library\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/michaelputra.com\/library\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/michaelputra.com\/library\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=245"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/michaelputra.com\/library\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/245\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":247,"href":"https:\/\/michaelputra.com\/library\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/245\/revisions\/247"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/michaelputra.com\/library\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=245"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/michaelputra.com\/library\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=245"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/michaelputra.com\/library\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=245"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}